Minggu, 02 Desember 2012

Patung dan Ikon di Jakarta


1. Patung Selamat Datang
Lokasi: Bundaran Hotel Indonesia
Patung (tugu) Selamat Datang dibangun untuk menyambut para peserta SEA Games IV yang diadakan di Jakarta pada tahun 1962. Patung ini dibangun persis di atas air mancur di depan Hotel Indonesia. Sketsa awalnya dibuat oleh Henk Ngantung mantan Gubernur Jakarta yang juga seorang seniman lukis. Pengerjaannya dilakukan oleh Edhi Sunarso seorang seniman patung dari Yogyakarta.
Patung berbahan perunggu ini dibuat menghadap utara kota Jakarta yang memang pada saat itu menjadi pusat bisnis, perdangangan dan jalur masuk pendatang dari pelabuhan. Air mancur yang mengelilingi patung ini sebenarnya memiliki lima formasi yang melambangkan ideologi Republik Indonesia yakni Pancasila. Diyakini pula mempunyai makna untuk memberikan salam kepada warga kota sesuai dengan waktu, yaitu Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Petang, Selamat Malam, dan Selamat Hari Minggu. Ini menandakan bahwa Jakarta sebagai metropolitan adalah kota yang tidak pernah tertidur. Namun belakangan air mancur ini jarang dinyalakan sehubungan dengan niat pemerintah untuk menghemat listrik.

2. Patung Dirgantara (Patung Pancoran)
Lokasi: Pancoran, Jakarta Selatan
Patung ini mempunyai beberapa nama samaran seperti Patung Pancoran (karena letaknya di Pancoran), patung Superman, Patung ‘Hey Kamu’. Padahal sesuai namanya, Patung DIrgantara, patung ini sebenarnya adalah untuk menggambarkan keperkasaan kekuatan digantara negara kita. Seperti kebanyakan patung di Jakarta, Patung Dirgantara juga dikerjakan oleh seniman Edhi SUnarso.
Tangan patung ini sebenarnya menunjuk ke arah utara tempat Bandar Udara Internasional Kemayoran, yang merupakan bandara internasional pertama yang dimiliki Jakarta. Selain itu lokasinya memang dekat dengan Markas Besar Angkatan Udara yang berada di selatannya. Sebelah tenggaranya terdapat di Bandar Udara Domestik Halim Perdana Kusuma. Dari cerita yang beredar Bung Karno harus merelakan menjual mobilnya untuk membiayai pembangunan patung ini.

3. Patung Pahlawan (Tugu Tani)
Lokasi: Jl. Prapatan, Jakarta Pusat
Populer dengan panggilan Tugu Tani, Patung Tani, Patung Pak Tani. Nama asli patung ini adalah Patung Pahlawan. Karena patung ini memakai caping, maka disebutlah dengan Patung (tugu) Tani.

Cerita pembangunan patung ini berawal dari kunjungan Presiden Sukarno ke Moskow. Disana ia terkesan dengan patung-patung yang ada disana. Nikita Kruschev, pemimpin Uni Sovyet saat itu lalu mengenalkan Sukarno dengan seorang seniman patung Matvei Manizer dan anaknya Otto Manizer. Mereka diundang ke Indonesia dan diminta untuk membuat patung yang melambangkan semangat perjuangan Indonesia.
Bapak dan anak itupun lalu berkesempatan untuk berkeliling dan menemukan sebuah legenda di daearah Jawa Barat yang berkisah tentang seorang ibu yang mengiringi anaknya untuk maju berperang. Anaknya meminta restu dan sang ibu pun memberikan semangat dan berpesan utnuk tidak melupakan orang tua dan negaranya. Kisah inilah yang diabadikan oleh kedua seniman patung asal Rusia itu menjadi sebuah patung.
Pengerjaan patung perunggu ini dikerjakan di Rusia, dan dibawa ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut. Diresmikan pada tahun 1963 oleh Presidenn Sukarno. Pada monumen ini diletakkan sebuah prasasti yang bertuliskan “Bangsa Yang Menghargai Pahlawannya Adalah Bangsa Yang Besar.”

4. Patung Pemuda Membangun
Lokasi: Bundaran Senayan
Monumen ini dibuat oleh team patung yang tergabung dalam Biro “ISA” (Insinyur Seniman Arsitektur) di bawah pimpinan Imam Supardi. Penanggung jawab pelaksanaan ialah Munir Pamuncak. Berbeda dengan patung yang dibangun pada saat era Sukarno yang menggunakan perunggu, patung ini dibuat dari beton bertulang dengan adukan semen dan bagian luarnya dilapisi dengan bahan teraso. Pekerjaan dimulai bulan Juli 1971 dan diresmikan bulan Maret 1972.
Rencana semula peresmiannya akan dilakukan pada acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 1971, akan tetapi pada saat itu patung belum siap sehingga tertunda beberapa bulan. Patung ini menggambarkan seorang pemuda dengan semangat menyala-nyala membawa obor. Dari jauh patung ini terlihat bagai tanpa busana, guratan-guratan urat dan gumpalan otot ditonjolkan untuk mendukung ekspresi gerak dari tokoh pemuda. Sedangkan makna obor ialah sebagai penerang dan secara filosofis untuk menerangi hati yang gelap.
Tujuan yang ingin dicapai dengan manifestasi patung ini ialah untuk mendorong semangat membangun yang pada hakekatnya harus dilakukan oleh para pemuda atau orang-orang yang berjiwa muda.

5. Patung Arjuna Wijaya/Patung Asta Brata
Lokasi: Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat
Patung yang dibuat pada tahun 1987 ini menggambarkan sosok Arjuna dalam kisah perang Baratayudha. Adegan ini diambil pada saat Kresna (yang mengendalikan kereta kuda) dan Arjuna sedang melawan Adipati Karna. Delapan kuda yang menarik kereta melambangkan delapan falsafah hidup (Asta Brata) yang menjadi panutan Suharto pada masa itu. Asta Brata itu meliputi falsafah bahwa hidup harus mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudra, angin, hujan dan bulan. Di bagian patung itu nempel prasasti yang bertuliskan ‘Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dengan pembangunan yang tidak mengenal akhir.’
Pada waktu pembuatannya, karena keterbatasan dana, akhirnya patung itu dibuat dari bahan poliester resin yang punya kelemahan mudah rapuh jika terkena sinar ultraviolet. Terbukti patung ini tidak bertahan lama, sampai pada akhirnya tahun 2003 direnovasi dengan biaya Rp. 4 Milyar. Material patung diganti dengan bahan tembaga.

6. Patung Pembebasan Irian Barat
Lokasi: Lapangan Banteng, Jakarta Pusat
Disebut juga Monumen Pembebasan Irian Barat. Merupakan monumen tanpa penokohan berbentuk patung yang terletak di tengah-tengah Lapangan Banteng. Monumen ini dibuat pada waktu perjuangan bangsa Indonesia untuk membebaskan wilayah Irian Barat mencapai puncaknya pada tahun 1962. Ide awal berasal dari Soekarno, kemudian “diterjemahkan” oleh Henk Ngantung dalam bentuk sketsa. Ide tersebut tercetus dari pidato Soekarno di Yogyakarta. Patung ini menggambarkan seorang yang telah berhasil membebaskan belenggu dari penjajahan Belanda. Patung ini dibuat dari bahan perunggu dan dilaksanakan oleh Team Pematung Keluarga Area Yogyakarta dibawah pimpinan Edhi Sunarso. Lama pembuatan patung ini adalah 1 tahun dan diresmikan tanggal 17 Agustus 1963 oleh Soekarno.
Ada cerita yang melekat pada pembuatan patung ini. Suatu hari Sukarno bertemu dengan Mayor Dimara, seorang tokoh dari Irian (sekarang Papua). Ia bertanya kepada Dimara soal rasa kebangsaannya. “Dari mana anak tahu bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke?” Tanpa pikir panjang, ia menjawab, “Bapak, saya cuma pikir, orang di Irian makan pinang, di Ambon makan pinang, di Jawa juga makan pinang. Jadi sebenarnya sama saja, kita sama-sama orang Indonesia!” Jawaban sederhana itu membuat Soekarno tertegun dan mengangguk setuju.
Soekarno sempat membuat Dimara kaget saat keduanya bercakap-cakap di Istana Merdeka, 18 Agustus 1962, “Saya akan buat monumen! Agar seluruh rakyat Indonesia tahu, pembebasan Irian Barat itu sudah berhasil.” Kelak, monumen yang dimaksud berdiri dengan gagah di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Patung pemuda setinggi 11 meter dengan rambut keriting yang seolah berkibar ditiup angin itu mencitrakan sosok Dimara. Wajahnya sangat ekspresif, seperti sedang berteriak. Rantai di kedua tangannya yang terangkat, terlihat putus terurai, seolah baru saja disentak sekuat tenaga.

Awalnya tidak disebutkan secara resmi, dari mana inspirasi monumen yang bentuknya diterjemahkan pelukis Henk Ngantung (dalam sktesa) dari pikiran Soekarno itu. Padahal, saat meresmikan monumen di hadapan sejumlah kepala suku Papua, Soekarno pernah mengatakan, “Itu yang di atas, patung Mayor J. A. Dimara!”

7. Patung Jenderal Sudirman
Lokasi: Jl. Jenderal sudirman, Jakarta Selatan
Rencana pembangunan patung Sudirman dan sejumlah patung yang akan menghiasi jalan protokol sesuai nama jalan mencuat pada September 2001. Rencana itu merupakan realisasi sayembara patung pahlawan yang dilakukan tahun 1999. Lokasi patung merupakan satu garis lurus yang berujung dari Patung Pemuda Membangun di Kebayoran sampai Tugu Monumen Nasional.
Biaya pembangunan patung yang menelan dana 6,6 miliar Rupiah berasal dari pengusaha, bukan dari APBD DKI Jakarta. Sebagai kompensasinya pengusaha mendapat dua titik reklame di lokasi strategis, Dukuh Atas. Sementara yang menentukan penyandang dana diserahkan kepada keluarga Sudirman.
Menurut rencana Patung Jenderal Sudirman sedianya akan diresmikan 22 Juni 2003 bertepatan HUT ke-476 Jakarta, namun tidak terealisasi. Peresmian akhirnya dilaksanakan tanggal 16 Agustus 2003. Peresmian sempat diwarnai unjuk rasa sekelompok pemuda. Panglima Besar Kemerdekaan RI yang seharusnya menjadi simbol semangat perjuangan bangsa Indonesia kini telah pudar makna kepahlawanannya. Karena Jenderal Sudirman digambarkan sedang dalam posisi menghormat. Posisi patung dianggap tidak pada tempatnya karena sebagai Panglima Besar, Sudirman tidak selayaknya menghormat kepada sembarang warga yang melintasi jalan, yang justru seharusnya menghormati. Hal ini pula yang sempat diangkat dalam film Nagabonar 2. Meski demikian Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso didampingi Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta Maurits Napitupulu dan salah satu keluarga besar Jenderal Sudirman, Hanung Faini, tetap meresmikan berdirinya Patung Jenderal Sudirman itu.
Jenderal Sudirman adalah pemimpin pasukan gerilya pada masa perang kemerdekaan (1945-1949). Ia menyandang anugerah Panglima Besar. Jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan negera layak dikenang dan diabadikan.

8. Patung Pangeran Diponegoro
Lokasi: Jl. Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat
Patung ini sukses menggantikan patung tokoh wanita yang sebelumnya berada di tempat ini. Patung yang berdiri di hamparan bunga-bunga rambat yang didominasi warna hijau dan jingga dibagian pinggir. Dari kejauhan tampak jelas patung yang menggambarkan Pangeran Diponegoro sedang menunggangi seekor kuda. Terletak dipertemuan Jalan Diponegoro dengan Jalan Imam Bonjol. Diapit dua objek yaitu Gedung Bappenas dan Taman Suropati. Diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso tanggal 6 Desember 2005.
Dari kejauhan tampak jelas patung yang menggambarkan Pangeran Diponegoro sedang menunggangi seekor kuda yang sedang mengangkat kedua kakinya sembari Diponegoro menghempaskan tombak yang terlihat seakan sedang melawan musuh dari atas kuda. Patung Diponegoro menempati lahan seluas 3000 m2, lengkap dengan air mancur di bawah patung seluas 110 m2. Patung Diponegoro merupakan hibah dari Ciputra, arsitek sekaligus pengusaha real estate pemilik Grup Ciputra. Menurut Ciputra, proses pembuatan sampai penempatan patung yang terbuat dari perunggu itu membutuhkan waktu hampir setahun.

9. Monumen Proklamator Soekarno-Hatta
Lokasi: Taman Proklamasi, Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat
Monumen ini dibangun sebagai peringatan kepada dua proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan M. Hatta. Pembuatannya dilaksanakan pada bulan November 1979-1980 oleh beberapa pematung diantaranya: Ir. Budiono Soeratno, I Sardono Sugiyo, Y. Sumartono, Drs. Nyoman, dan G. Sidarta Sugiyo. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1980 diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.
Secara fisik monumen Soekarno-Hatta terdiri dan Patung Soekarno yang dibuat dan bahan perunggu dengan tinggi 4,60 m; Patung Bung Hatta dibuat dari bahan perunggu dengan ketinggian 4,30 m; Naskah Proklamasi terbuat dan bahan perunggu; Elemen Latar Belakang berupa relung-relung segitiga yang berjumlah 17 buah dan terbuat dan bahan marmer Tulungagung.
Tempat berdirinya monumen ini dulunya adalah lokasi rumah Soekarno yang dipakai sebagai tempat pembacaan proklamasi. Namun oleh pemerintahan Suharto, rumah tersebut dirubuhkan dan diganti dengan taman yang menyatu dengan Gedung Pola.

11.  Monumen Perjuangan Jatinegara
Lokasi: Depan Pasar Jatinegara, Jakarta Timur
Monumen ini dibangun untuk mengenang peristiwa-peristiwa perjuangan rakyat di Jakarta Timur pada umumnya dan Jatinegara pada khususnya. Berbagai peristiwa yang pernah terjadi merupakan rangkaian perjuangan di daerah-daerah, seperti Pasar Jangkrik (Pasar Macan), Paseban, Kampung Melayu, Pulomas, dsb. Ide pembuatan patung diprakarsai oleh Gubernur KDKI Jakarta saat itu Ali Sadikin.
Monumen dibangun di ujung Jl. Matraman pada pertemuan Jl. Jatinegara Barat dan Urip Sumoharjo dekat Gereja Eukomunia. Sedianya monumen ini akan dibangun di sekitar lokasi Viadek (viaduct) Jatinegara tetapi karena lokasi tidak memungkinkan, dialihkan di Jl. Matraman Raya.

Monumen ini dibangun dengan gaya realis berbentuk sosok manusia yang berdiri tegak di atas landasan yang tingginya 3 meter. Patung yang menggambarkan seorang pemuda berukuran 2,5 m berdiri tegak dengan tangan sedekap (tangan di dada) sambil memeluk senapan, dipunggungnya tergantung sebuah ransel, berikat pinggang dengan dilengkapi peralatan perang seperti pistol, granat golok, dompet dan sebuah tempat minum. Di samping berdiri seorang anak laki-laki setinggi 1 m  bercelana pendek tanpa baju dengan kaki telanjang, di leher bergantung sebuah ketapel. Di bawah patung terdapat tulisan patung perjuangan Jatinegara, diresmikan tanggal 7 Juni 1982 oleh Gubernur KDKI Jakarta, Tjokropranolo. Pembuatan patung ini memakan waktu 2,5 tahun, bahan pembuatan patung ini adalah beton cor dan gips, pengecoran dilakukan di Yogyakarta. Sebagai pematungnya adalah Haryadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar